Selasa, 28 Mei 2013

marketing dalam syariah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam sebuah bisnis pasti mengenal kata pemasaran atau  marketing. Pokok yang paling penting dalam bisnis bukanlah kantor, bukan produk atau jasa  melainkan penawaran. Bisnis belum dikatakan ada, jika belum melakukan penawaran. Dan penawaran itu sendiri ada dalam kegiatan marketing.
Nah, dengan sedikit gambaran di  atas kami pemakalah akan membahas tentang pemasaran atau marketing. Kami akan membahasnya masalah pemasaran dalam islam, atau bisa lebih jelasnya pemasaran yang syari’ah. Untuk lebih jelas lagi mari kita sama-sama belajar pemasaran dalam islam pada makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, kami menarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi pemasaran atau marketing dalam islam?
2.      Bagaimana perkembangan pemasaran konvensional menuju pemasaran yang islami atau yang syari’ah?
3.      Bagaimana strategi pemasaran dalam islam?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses sosisal yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.[1]
Definisi pemasaran secara sosial menunjukan peran yang dimainkan oleh pemasaran masyarakat. Seorang pemasar mengatakan bahwa peran pemasaran adalah menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi. Sedangkan definisi pemasaran secara manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai seni menjual produk. Tadi adalah definisi menurut The American marketing Association.
Menurut Herman Kertajaya pemasaran syari’ah merupakan strategi bisnis, yang harus memayungi seluruh aktifitas dalam sebuah perusahaan, meliputi seluruh proses, menciptakan, menawarkan, pertukaran nilai, dari seorang produsen, atau satu perusahaan, atau perorangan, yang sesuai dengan ajaran islam.[2] Untuk lebih jelasnya ini ada penjelasan mengenai karakteristik pemasaran dalam islam :
1.      Rabbaniyah, yang artinya ketuhanan. Semua tindak tanduk yang kita lakukan semua diawasi oleh Allah dan kita juga harus menyakini kebesaran Allah yang maha mengetahui. Oleh sebab itu kita semua harus bersikap sebaik mungkin, misalnya tidak berbuat licik kepada sesamanya, tidak mencuri hak milik orang lain atau bisa dibilang memakan harta orang lain. Apabila kita sudah menyakini ketuhanan Allah dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, insyaAllah dapat mencegah kita untuk berbuat perbuatan yang tercela dalam dunia bisnis.
2.       Akhlaqiyah, yang artinya etika yang baik. Kita sebagai umat Rasulullah maka kita wajib meneladani sifat-sifat beliau, salah satunya berperilaku yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan etika yang mulia”.[3] Sebagaimana contoh dalam dunia bisnis, tidak menjadi penipu yang suka mengoplos barang suka menimbum barang, atau mengambil keuntungan yang berlebihan yang bisa jadi merugikan salah satu pihak. Para maketer syari’ah selalu memelihara setiap tutur kata, perilaku dalam berhubungan bisnis dengan siapa saja, misalkan pada konsumen, distributor, atau orang-rang yang terlibat di dalamnya bisa disebut karyawan.
3.      Al-Waqiiyyah, kata lainnya realistis yang artinya sesuai dengan kenyataan. Dalam dunia bisnis katarter ini sangat penting, karena semua transaksi harus dilakukan sesuai kenyataan yang ada. Sebagaimana perintah Rasulullah, misal ada orang yang menjual barang ada cacatnya, maka katakan kepada calon pembeli bahwa barang itu ada sedikit cacatnya. Jangan sekali-kali mengelabuhi orang yang punya niat baik-baik.
4.      Al-Insaniyah, yang artinya kemanusiaan. Jangan sampai kegiatan pemasaran ini dapat merusak tatan hidup dimasyarakat atau menjadikan perikehidupan bermasyarakatan terganggu dan menaati aturan yang kuat yang berkuasa. Sikap kemanusiaan ini bisa dilakukan dengan saling menghormati dan pemasaran berusaha membuat kehidupan menjadi lebih baik. Seorang marketer jangan sampai menjadi orang yang serakah, mau mengusai segalanya, dalam artian terlalu memaksa orang lain untuk mengikuti aturan kita dan orang lain tersebut merasa dirugikan.

B.      Perkembangan Pemasaran Syari’ah
Pada zaman dulu ilmu marketing belum muncul, masyarakat masih berusaha memenuhi kebutuhannya secara pribadi atau individu. Semua barang yang dihasilkan pada hari itu habis pada hari itu juga, yang dikenal dengan sebutan scacity. Kemudian zaman berubah dengan pesat, manusia mulai bisa menciptakan barang-barang untuk memenuhi kebutuhan menggunakan alat bantu mesin. Dan saat mesin sudah bekerja, dapat menhasilkan barang yang banyak dalam waktu yang singkat. Berhubung barangnya melimpah, para produsen harus giat untuk memasarkan barangnya. Dan ilmu marketing mulai diperlukan, yang dikenal dengan sebutan relative plenty. Namun pada keadaan yang seperti itu produsen masih kuat menghadapi konsumen sendiri, yang dikenal dengan sebutan seller’s market. Lama kelamaan produsen semakin banyak dan saling bersaing. Dan keadaan pasar dikuasai oleh konsumen, yang dikenal dengan buyer’s market.
Berikut ini senjata para produsen untuk bersaing :
1.      Persaingan melalui harga
2.      Persaingan melalui kualitas
3.      Persaingan melalui desain
4.      Persaingan emosional
5.      Pamasaran experiental
Adanya banyak cara-cara bersaing para produsen itu menggeser atau mengalami transformasi dari level intelektual (rasional) ke emisional dan akhirnya ke spiritual. Pada level intelektul para pemasar berpikir dengan baik mengenai pemasaran. Namun pada level emosional para pemasar berusaha memahami dan menyentuh emosi atau perasaan konsumen. Pada level spiritual ini bisa dipahami sebagai bisikan nurani.
Pada level spiritual menggunakan bahasa hati, dan konsep spiritual inilah yang merupakan inti dari konsep pemasaran syari’ah. Karena dapat memunculkan aspek kejujuran, empati, cinta, dan kepedulian terhadap sesama.
Berbisnis dalam qalbu, hati adalah sumber pokok bagi segala kebaikan dan kebahagiaan seseorang. Hati merupakan kesempurnaan hidup dan cahayanya. Betapa indahnya sekiranya kita dapat mengelola bisnis kita dengan hati yang bening. Kita menjalani hidup ini dan segala dinikmatinya dengan hati yang bersih. Kitapun akan memperoleh rizki dari sumber yang halal, karena segala aktivitas kita dilandasi dengan niat yang baik, tanpa prasangka buruk, tanpa penipuan, tanpa kebohongan. Semuanya ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.(Herman K, Muh.Syakir Sula, 2008)[4]
Para konsumen sudah mulai bosan dengan cara-cara produsen untuk bersaing yang sudah keluar dari bahasa hati. Saling menjelekan dan menjatuhkan pesaingnya. Dan tipuan berbagai bentuk sudah dilakukan, seperti suap menyuap untuk melariskan dagangannya dengan menyebarkan fitnah bahwa pesaingnya menggunakan barang haram dalam produksinya. Sikap seperti itu sudah merusak aqidah agama islam. Peristiwa seperti itu mendorong berkembangnya pemasaran syari’ah dengan konsep spiritual  marketing.

C.     Strategi Pemasaran Syari’ah
Syariah marketer melakukan bisnis secara profesional dengan nilai-nilai yang menjadi landasan: (1) Memiliki kepribadian spritual (taqwa); seorang pemasar syariah diperintahkan untuk selalu mengingat kepada Allah Swt walaupun sedang sibuk dalam aktifitas pemasarannya. (2) Berperilaku baik dan simpatik (sidiq), seorang pemasar syariah senantiasa berwajah manis, berperilaku baik, simpatik dan rendah hati dalam menciptakan nilai pelanggan unggul; (3) Berlaku adil dalam memasarkan produk (al adil) karena Allah Swt mencintai orang-orang yang berbuat adil membenci orang-orang yang berbuat zalim; (4) Melayani pelanggan dengan senyum dan rendah hati (khidmat), sikap melayani adalah sikap utama seorang pemsar syariah; (5) Menepati janji dan tidak curang (tahfif), seorang pemasar syariah harus dapat menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai wakil dari perusahaan dalam memasarkan dan mempromosikan produk kepada pelanggan; (6) Jujur dan terpercaya (al-amanah), seorang pemasar syariah haruslah dapat dipercaya dalam memegang amanah; (7) Tidak suka berburuk sangka (su'uzhzhann), Islam mengajarkan kepada kita untuk saling menghormati satu sama lain dalam melakukan aktifitas pemasaran; (8) Tidak menjelek-jelekkan (ghibah), seorang pemasar syariah dilarang ghibah atau menjelek-jelekkan pesaing bisnis lain karena ghibah artinya keinginan untuk menghancurkan orang, menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain; (9) Tidak melakukan sogok (risywah), menyogok dalam perspektif syariah hukumnya haram dan termasuk dalam kategori memakan harta orang lain dengan cara batil.[5]


[1] Philip kotler, Manajemen Pemasaran, Jakarta ; PT INDEKS Kelompok Gramedia, 2004, hlm.9
[2] Alma Buchari, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syari’ah, Bandung ; ALFABETA, 2009, hlm.258
[3] Jabir Al-Alwani, Taha, Bisnis Islam, Yogyakarta; AK Group, 2005, hlm.33
[4] Ibid., hlm.262

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar